Teheran — Pemerintah Iran menegaskan bahwa kebijakan luar negerinya tetap berfokus pada diplomasi sambil mempertahankan kesiapan militer penuh sebagai bagian dari strategi nasional untuk menghadapi kondisi geopolitik yang kompleks di kawasan. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam forum kebijakan luar negeri tingkat tinggi di Teheran, Minggu (8/2/2026).
Araghchi menekankan bahwa pendekatan yang diambil Tehran bukanlah pilihan antara damai atau perang semata, melainkan perpaduan nyata antara upaya diplomasi dan kesiapan menghadapi segala kemungkinan konflik. Hal ini, menurutnya, menjadi fondasi kebijakan luar negeri yang menjunjung tinggi martabat nasional — yaitu mempertahankan kedaulatan sambil menolak dominasi asing.
Empat alasan utama yang disampaikan pemerintah Iran mencerminkan keseimbangan strategis antara dialog dan kekuatan:
- Menjaga Deterensi yang Efektif
Iran menyatakan bahwa kesiapan militer dipertahankan bukan untuk provokasi, tetapi agar tidak ada pihak yang “berani menentang” negara tersebut. Diplomasi hanya akan berjalan mulus bila didukung oleh posisi pertahanan yang kuat terhadap ancaman eksternal. - Pengetahuan dan Teknologi Tidak Bisa Dihancurkan Melalui Serangan
Araghchi menyampaikan bahwa serangan militer terhadap fasilitas Iran tidak akan menghancurkan kemampuan ilmiah dan teknologi bangsa tersebut. Dengan demikian, jalur diplomasi tetap menjadi mekanisme terbaik untuk menyelesaikan sengketa, terutama terkait program nuklir damai. - Diplomasi Sebagai Respon Terhadap Sikap Internasional
Respons Iran terhadap dunia internasional, tegas pejabat itu, akan mengikuti “bahasa” pihak lain: diplomasi dibalas diplomasi, dan tekanan atau kekuatan dibalas dengan kesiapan yang setara. Ini mencerminkan prinsip Iran dalam negosiasi global. - Upaya Mengurangi Ketidakpastian Program Nuklir Damai
Iran menyatakan kesediaannya untuk menjelaskan dan mempertegas tujuan program nuklirnya melalui jalur diplomasi, karena jalur lain dinilai belum membuahkan hasil substansial.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah negosiasi tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat di Muscat, Oman, yang digambarkan Araghchi sebagai awal yang “baik” meskipun tantangan masih ada dalam menyepakati hak Iran atas pengayaan uranium dan isu sanksi internasional.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Tehran memprioritaskan diplomasi yang berbasis martabat nasional dan aturan internasional, bukan konfrontasi bersenjata, selama negosiasi berjalan dalam suasana yang menghormati kedaulatan dan tanpa tekanan berlebihan.
Kebijakan ini dipandang sebagai respons Tehran terhadap peningkatan retorika militer di kawasan, termasuk penempatan pasukan oleh Amerika Serikat, sambil membuka ruang dialog yang konstruktif demi stabilitas jangka panjang di wilayah Timur Tengah.


