Minggu, 05 April 2026
Contact Us

Konflik Iran–Israel Kian Memanas, Serangan Balasan Terjadi di Tehran dan Tel Aviv

Horizon.id – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel dan Iran saling melancarkan serangan pada Jumat. Serangan tersebut menyasar sejumlah titik strategis, termasuk ibu kota Iran, Tehran, serta kota Tel Aviv di Israel.

Militer Israel dilaporkan menyerang target yang diduga berkaitan dengan kelompok Hezbollah di Lebanon serta sejumlah infrastruktur militer Iran di Tehran. Langkah ini disebut sebagai kelanjutan dari operasi militer Israel terhadap Iran.

Media The Wall Street Journal melaporkan bahwa militer Israel telah memasuki “fase berikutnya” dalam kampanye militernya setelah sebelumnya melancarkan serangan kejutan pada tahap awal operasi.

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang diarahkan ke wilayah Tel Aviv. Kantor berita pemerintah Iran juga menyebut beberapa negara di kawasan Teluk, termasuk Bahrain dan Arab Saudi, ikut terdampak serangan tersebut.

Konflik ini telah memasuki hari ketujuh sejak dimulainya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Iran memperingatkan bahwa konflik tersebut berpotensi berubah menjadi konflik berkepanjangan jika terus diperluas.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki kapasitas persenjataan yang cukup untuk melanjutkan operasi militer selama diperlukan.

Di sisi lain, situasi politik di Iran juga mengalami perkembangan setelah laporan menyebutkan bahwa proses penunjukan pemimpin tertinggi baru Iran masih ditunda. Laporan The New York Times menyebutkan bahwa Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Ali Khamenei, disebut sebagai kandidat kuat untuk posisi tersebut.

Namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kemungkinan penunjukan tersebut tidak dapat diterima oleh pihaknya.

Di tengah meningkatnya konflik, pasar energi global turut mengalami tekanan. Kekhawatiran terbesar muncul dari potensi terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Sejumlah perusahaan pelayaran internasional seperti A.P. Moller-Maersk dan Hapag-Lloyd bahkan dilaporkan menghentikan beberapa rute pengiriman yang melewati kawasan Timur Tengah menuju Eropa dan Asia Timur.

Dampaknya, harga minyak mentah global mengalami lonjakan signifikan. Harga minyak berjangka Amerika Serikat tercatat naik hampir 21 persen sejak dimulainya operasi militer terhadap Iran.

Kenaikan harga energi juga mulai dirasakan di pasar domestik Amerika Serikat. Data dari kelompok perjalanan AAA yang dikutip Reuters menunjukkan harga rata rata bensin di AS meningkat sekitar 27 sen menjadi 3,25 dolar AS per galon.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan investor bahwa konflik berkepanjangan dapat mendorong lonjakan inflasi global serta mempengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Lonjakan harga minyak juga memberi tekanan pada pasar saham dan mata uang di kawasan Asia. Korea Selatan menjadi salah satu negara yang paling terdampak karena ketergantungannya terhadap impor minyak melalui Selat Hormuz.

Indeks Kospi Korea Selatan tercatat turun lebih dari 10 persen dalam satu minggu terakhir. Sementara itu, indeks saham utama di Eropa juga diperkirakan mencatat penurunan mingguan terbesar sejak April tahun lalu.

Sebagai langkah untuk menekan kenaikan harga energi, pemerintah Amerika Serikat dilaporkan memberikan izin sementara bagi penjualan minyak Rusia ke India selama periode 30 hari.

Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya pemerintah AS untuk menjaga stabilitas harga minyak di pasar global.

Sementara itu, Departemen Keuangan Amerika Serikat juga disebut tengah menyiapkan kebijakan tambahan guna mengendalikan harga energi melalui mekanisme pasar keuangan.