Minggu, 05 April 2026
Contact Us

Polri Kumpulkan CCTV untuk Ungkap Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS

Jakarta – Kepolisian Republik Indonesia tengah menyelidiki kasus penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, di kawasan Jalan Salemba I, Jakarta Pusat.

Dalam proses penyelidikan tersebut, penyidik mengumpulkan berbagai alat bukti digital, termasuk rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir mengatakan rekaman CCTV yang telah diperoleh saat ini masih dianalisis guna mengidentifikasi pelaku penyerangan.
“Pengumpulan berbagai alat bukti digital, termasuk CCTV, sedang dalam proses analisis lebih lanjut.

Harapannya pelaku dapat segera teridentifikasi,” ujar Johnny dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Selain itu, penyidik juga telah memeriksa sejumlah saksi yang berada di sekitar lokasi kejadian. Hingga saat ini, dua orang saksi telah dimintai keterangan untuk membantu proses penyelidikan.

Johnny menambahkan bahwa proses pemeriksaan saksi masih terus berlangsung dan tidak menutup kemungkinan jumlah saksi akan bertambah seiring perkembangan penyelidikan.

Ia menegaskan Polri berkomitmen untuk mengungkap kasus tersebut secara transparan dan profesional.
“Kami akan serius mengungkap kasus ini hingga terang benderang dan menangkap pelakunya, siapa pun dia, tentu tetap dalam koridor hukum,” tegasnya.

Sebelumnya, Andrie Yunus diduga menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal setelah menghadiri kegiatan podcast di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang membahas isu militerisme serta uji materi Undang-Undang TNI.

Berdasarkan informasi awal, sekitar pukul 23.37 WIB Andrie sedang mengendarai sepeda motor di Jalan Salemba I ketika dua orang pelaku yang juga menggunakan sepeda motor mendekatinya. Salah satu pelaku kemudian menyiramkan cairan yang diduga air keras sebelum melarikan diri dari lokasi.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka bakar pada sekitar 24 persen bagian tubuh, termasuk pada tangan, kaki, dan mata. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Kasus ini menjadi perhatian publik karena menyasar seorang aktivis hak asasi manusia. Polisi berharap pengumpulan bukti digital serta keterangan saksi dapat mempercepat proses pengungkapan pelaku.