Gelombang aksi unjuk rasa bertajuk “No Kings” kembali meluas di berbagai wilayah Amerika Serikat dengan skala partisipasi yang terus meningkat. Dalam aksi terbaru yang digelar akhir Maret 2026, demonstrasi tercatat berlangsung di lebih dari 3.300 lokasi di seluruh 50 negara bagian.
Berdasarkan laporan Reuters dan AFP, jutaan warga terlibat dalam aksi tersebut, dengan konsentrasi massa besar terlihat di kota-kota seperti New York, Dallas, Philadelphia, dan Washington.
Aksi ini dipicu oleh kritik terhadap kebijakan Presiden Donald Trump, terutama terkait kebijakan deportasi imigran, penggunaan kekuatan militer, serta kekhawatiran terhadap arah kepemimpinan yang dinilai sebagian pihak berpotensi melemahkan prinsip demokrasi.
Sejumlah tokoh turut menyuarakan kritik dalam aksi tersebut. Senator Bernie Sanders menegaskan bahwa masyarakat tidak akan membiarkan praktik otoritarianisme berkembang. Sementara itu, aktor Robert De Niro menyebut kepemimpinan Trump sebagai ancaman serius bagi kebebasan dan keamanan negara.
Di sejumlah wilayah, aksi berlangsung dinamis. Di Dallas, bentrokan terjadi antara demonstran dan kelompok tandingan yang dipimpin Enrique Tarrio, sementara di Los Angeles aparat melakukan penangkapan setelah terjadi ketegangan di sekitar gedung federal.
Gerakan “No Kings” sendiri merupakan mobilisasi masyarakat sipil yang menolak kepemimpinan yang dianggap menyerupai kekuasaan absolut. Gerakan ini menegaskan prinsip dasar Amerika Serikat sebagai negara republik yang menjunjung konstitusi dan pembatasan kekuasaan.
Sejak pertama kali digelar pada Juni 2025, gerakan ini terus berkembang dengan partisipasi jutaan orang. Data menunjukkan peningkatan signifikan jumlah aksi, dari sekitar 2.100 lokasi pada 2025 menjadi lebih dari 3.300 lokasi pada Maret 2026.
Selain isu domestik, aksi terbaru juga dipicu oleh sentimen anti-perang terkait keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik Iran. Hal ini memperluas spektrum tuntutan yang disuarakan para demonstran.
Gelombang protes ini terjadi menjelang pemilu paruh waktu yang akan menentukan komposisi Kongres. Survei Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Presiden Trump berada di angka 36 persen, menjadi salah satu yang terendah sejak ia kembali menjabat.
Perkembangan gerakan “No Kings” menunjukkan meningkatnya mobilisasi publik dalam merespons dinamika politik nasional di Amerika Serikat, sekaligus menjadi indikator penting dalam membaca arah kontestasi politik ke depan.


