Sabtu, 03 Oktober 2026
Contact Us

Aksi Mahasiswa Berujung Ricuh, Aktivitas Warga Makassar Kembali Terganggu

Makassar — Warga Kota Makassar kembali dihadapkan pada persoalan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Di tengah keluhan terkait sejumlah layanan publik, termasuk gangguan penerangan dan persoalan ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah, aktivitas masyarakat turut terganggu oleh aksi unjuk rasa yang berakhir ricuh di kawasan Jalan AP Pettarani, Jumat (4/9/2026).

Aksi yang digelar puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Berlawanan tersebut awalnya berlangsung dengan penyampaian sejumlah tuntutan. Namun, situasi kemudian berkembang ketika massa menahan truk kontainer di badan jalan dan membakar ban di tengah kepadatan lalu lintas pada jam pulang kerja.

Tindakan tersebut berdampak langsung terhadap pengguna jalan. Arus kendaraan dari arah Fly Over menuju pertigaan Jalan AP Pettarani–Jalan Sultan Alauddin mengalami kepadatan panjang. Sejumlah pengendara terpaksa memperlambat laju kendaraan, sementara aparat kepolisian dikerahkan untuk mengurai kemacetan.

Situasi semakin memanas pada malam hari. Sekitar pukul 20.00 WITA, kericuhan terjadi di depan Menara Pinisi UNM. Sejumlah mahasiswa terlibat saling lempar dengan pengguna jalan. Massa juga kembali membakar ban bekas di ruas Jalan Pendidikan.

Kericuhan tersebut menunjukkan bagaimana aksi penyampaian aspirasi dapat memberikan dampak yang lebih luas ketika dilakukan dengan cara yang mengganggu ruang publik.

Pengemudi transportasi daring menjadi salah satu kelompok yang turut terdampak. Terhambatnya arus lalu lintas berarti bertambahnya waktu perjalanan dan berkurangnya mobilitas. Kondisi serupa juga dirasakan pengguna kendaraan pribadi maupun angkutan umum yang melintas di kawasan tersebut.

Di sisi lain, pembakaran ban di badan jalan juga menimbulkan persoalan tersendiri. Selain menghambat kendaraan, asap dan api di ruang lalu lintas dapat meningkatkan risiko keselamatan bagi pengguna jalan dan orang-orang yang berada di sekitar lokasi.

Ironisnya, gangguan tersebut terjadi ketika masyarakat Makassar sendiri tengah menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan layanan publik seperti gangguan listrik dan ketersediaan air bersih menjadi perhatian warga di sejumlah wilayah. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat membutuhkan ruang kota yang aman dan aktivitas yang tetap berjalan, bukan tambahan gangguan di ruang publik.