MAKASSAR – Persoalan distribusi BBM dan LPG yang sempat menimbulkan antrean dan keluhan masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan mulai menunjukkan perkembangan. Namun, isu tersebut masih terus menjadi bahan pembicaraan di media sosial dan berpotensi dimanfaatkan pihak tertentu untuk membangun keresahan di tengah masyarakat.
Sejumlah konten yang membahas antrean dan sulitnya mendapatkan BBM maupun LPG cenderung menonjolkan sisi kelangkaan dan kesulitan masyarakat. Narasi tersebut dapat membentuk kesan bahwa kondisi sedang berlangsung secara luas, meskipun situasi di setiap wilayah tidak selalu sama dan terus mengalami perubahan.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena persoalan kebutuhan dasar seperti BBM dan LPG memiliki dampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Ketika informasi mengenai kelangkaan terus diulang dan dikemas secara berlebihan, isu yang awalnya berkaitan dengan distribusi dapat berkembang menjadi ketidakpuasan yang lebih luas terhadap pemerintah.
Potensi penunggang isu juga terlihat ketika persoalan BBM dan LPG mulai dikaitkan dengan narasi kegagalan pemerintah, ketidakpedulian terhadap masyarakat, hingga ajakan untuk menyampaikan kemarahan secara terbuka. Pola semacam ini berpotensi memperbesar sentimen negatif dan mendorong terbentuknya keresahan bersama.
Masyarakat tetap memiliki hak untuk menyampaikan keluhan ketika mengalami kesulitan mendapatkan BBM maupun LPG. Namun, informasi yang beredar perlu dilihat secara utuh dengan memperhatikan waktu, lokasi, kondisi terbaru dan sumber informasi.
Persoalan distribusi perlu diselesaikan berdasarkan kondisi di lapangan. Pada saat yang sama, masyarakat perlu berhati-hati terhadap konten yang terus mengulang narasi kelangkaan tanpa memperhatikan perkembangan terbaru.
Jangan sampai persoalan yang sedang ditangani justru berkembang menjadi keresahan yang lebih besar karena dimanfaatkan untuk kepentingan pihak tertentu.


