Sabtu, 18 April 2026
Contact Us

Napak Tilas 30 Hari Kasus Andrie Yunus: Terungkap Strategi Penguntitan di Balik Teror Air Keras

JAKARTA – Tabir gelap yang menyelimuti kasus penyerangan Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, mulai tersingkap melalui aksi “Napak Tilas 53” yang digelar pada Minggu (12/4/2026). Dalam aksi peringatan satu bulan insiden tersebut, sejumlah fakta lapangan mengenai pola penguntitan yang terorganisir dibeberkan kepada publik. Dari analisis rekaman CCTV hingga pemetaan rute, penyerangan ini diduga kuat bukan merupakan aksi spontan, melainkan operasi yang melibatkan koordinasi antar-pelaku di beberapa titik strategis Jakarta Pusat.

Titik Pantau di YLBHI dan Analisis CCTV

Perjalanan napak tilas dimulai dari titik awal di Kantor YLBHI, tempat Andrie terakhir kali terlihat sebelum insiden. Perwakilan Perempuan Mahardika, Sarah, mengungkapkan bahwa berdasarkan rekaman CCTV, terdapat aktivitas mencurigakan dari sejumlah orang tak dikenal (OTK) yang telah bersiaga di sekitar area tersebut.

“Di seberang jalan, tepat di bawah pepohonan itu, menjadi pos di mana OTK 1 dan 2 melakukan pantauan awal. Kami menduga ada enam hingga tujuh orang yang berkoordinasi secara rapi sebelum mengikuti pergerakan korban,” jelas Sarah saat memberikan instruksi kepada peserta aksi.

Pola Penguntitan Terorganisir: Dari Cikini hingga Jalan Talang

Fakta baru muncul saat rombongan menyambangi SPBU Cikini. Di lokasi ini, Andrie yang tengah mengisi bahan bakar diketahui sudah mulai dibuntuti oleh dua sepeda motor. Fatia Maulidiyanti dari Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) menyebutkan bahwa setidaknya ada empat orang yang secara konsisten menjaga jarak di belakang motor korban.

“Pola penguntitan ini sangat sistematis. Sejak dari YLBHI hingga kawasan Cikini, ada tim yang terus memantau pergerakan Andrie secara bergantian agar tidak mencolok,” ujar Fatia.

Puncak dari aksi pengecut ini terjadi di Jalan Talang, lokasi di mana cairan asam pekat akhirnya disiramkan kepada Andrie. Di titik ini, peserta aksi melakukan doa bersama dan memasang pita merah muda sebagai simbol tuntutan keadilan yang belum tuntas.

Visualisasi Perlawanan Melalui Mural

Selain menelusuri rute, aksi ini juga diwarnai dengan pembuatan mural oleh seniman lokal—Kemas, Zulfi, dan Ale. Karya visual tersebut tidak hanya menampilkan potret wajah Andrie Yunus, tetapi juga menyisipkan siluet 16 sosok yang diduga memiliki keterlibatan, baik langsung maupun tidak langsung, dalam peristiwa kelam tersebut.

Salah seorang rekan korban, Hema (29), mengungkapkan rasa trauma mendalam yang masih dirasakan lingkungan terdekat Andrie. “Melihat kembali video kejadian dan menyusuri rute ini sangat menyakitkan, apalagi hingga kini aktor-aktor di balik ini belum sepenuhnya terungkap ke publik,” ucapnya lirih.

Aksi ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap dari Gerakan Solidaritas untuk Andrie Yunus. Mereka menegaskan bahwa negara harus segera menyeret seluruh pihak yang terlibat, termasuk aktor intelektual, ke pengadilan umum demi membuktikan bahwa supremasi hukum masih tegak bagi masyarakat sipil.